Hari itu saya lagi bosen di apartemen, dan saya iseng jalan - jalan di Central Park. Di Central Park pun saya tidak memiliki tujuan ngapa - ngapain. Jadi saya menuju Blitzmegaplex *ya sendirian*. Cinema adalah tempat favorit saya di mall, disusul dengan toko buku dan kemudian tempat makan. Dan saya melihat poster Gending Sriwijaya terpampang dengan tulisan Now Playing.

Sekilas terbesit film - film Ind*siar yang naga terbang dan sebagainya yang tak pantas saya sebutkan disini. Dan saya melihat ada Jupe nongol di depan posternya. Dan terbesit acara - acara infotainment di channel - channel televisi. Dan saya teringat akan omongan dosen saya *lupa siapa*, "Tau gak kenapa film horror yang gimana gitu masih ada aja penontonnya? Ya kemungkinan orang yang nonton itu terjebak macet, daripada di mobil, dia ngeliat poster ada film horror yang nampilin foto si Jupe atau siapalah, dan iseng - iseng nonton untuk hiburan, daripada macet.".

Dan mungkin aku salah satu orang tersebut ._. *plak*. Tapi aku menahan diri untuk melupakan itu semua. Karena pada suatu hari, sebelum hari saya nonton film ini, saya sudah melihat trailer film ini bersama teman saya sebelum nonton film Dead Mine. Dan aku bilang sama temen saya, "Kita harus nonton ini neh, kayaknya keren.". Yups aku ngomong gitu, dan aku ingin menepati janji saya waktu itu, karena memang trailernya keliatan "mahal". Dan saya kondisinya nonton sendirian, bukan sama teman, bukan sama keluarga, karena aku yakin kalau aku sama orang lain, mereka akan membiaskan pilihan film saya ke tempat lain LOL. Dan saya liat jam tayangnya, sudah hampir mulai, so why not?

Ok menuju ke filmnya. Pada awalnya kita disuguhkan tampilan sebuah kerajaan. Dan semua yang ada di film begitu tampak "mahal". Dari set, kostum, dan make up nya ditata dengan sangat baik, dan merupakan pengalaman pertama saya melihat film Indonesia menggunakan artistik yang sangat kuat dan bagus. Dan dari aktingnya, saya seperti disempal kaos kaki ke mulut oleh Jupe. Melihat aktingnya si Jupe, bisa bikin mulut nga - nga. Aku gak nyangka kalau si Jupe ini bisa akting segitunya. Dan aku sempat meragukan kalau film - film horror yang diperanin si Jupe ini ternyata bagus, karena aku belum pernah liat film horror tersebut, dan aku meragukan para reviewer film horror tersebut, karena di dalam film Gending Sriwijaya ini saya disajikan realita yang berbeda.

Oh iya, karena saya orang Sumatra, tepatnya Bangka Belitung, saya tidak terlalu susah mengikuti bahasa yang dipakai di dalam film. Perlu diketahui mereka menggunakan bahasa Palembang yang gak terlalu jauh - jauh amat sama bahasa Bangka menurut saya. Dan saya agak terpukau melihat para aktor sama aktris melakukan dialog memakai bahasa Palembang. Kerasa something gimana gitu~.

Btw... salah teman aku nanya sama aku, "Ada Mathias Muchus kan yang maen?". Karena aku gak gitu kenal nama aktor / aktris, aku gak tau. Dan setelah aku google nama itu, muncul sebuah gambar muka yang aku familiar. Terus aku mikir semua keseluruhan cerita, dimana orang tersebut muncul. Dan saya sama sekali tidak mengingat ada Mathias Muchus yang maen. Setelah aku google lagi, dan melihat Mathias Muchus menjadi pemeran yang lumayan banyak di dalam film yaitu Ki Goblek. Aku agak - agak kaget. Aku kembali googling nyari foto Ki Goblek. Dan ternyata... anjir... beda banget ==a... setelah diteliti memang itu orang yang sama. Dan saya kasih dua jempol untuk penata artistiknya, terutama make up artistnya. Make up artistnya juga berhasil membuat si Jupe ini jadi tampak lebih "gelap".

Oh ya persiapan juga patut dilihat dari film ini. Film ini berhasil memaksa beberapa pemain utama untuk nge-gym dan menampilkan perut yang rata mendekati six pack. Lihat aja si Sahrul Gunawan, karena seingat saya tubuhnya tidak seatletis itu sebelumnya ._. *ngiri mode : on*. Untuk kostum, mereka tidak memakai kostum *eh*, maksudnya para lelaki *lanang kalau di film*, itu mayoritas bertelanjang dada, dan menampilkan tubuh eksotisnya *eh*.

Dan karena ini film action, actionnya juga gak bisa dibilang main - main, actionnya itu kalau aku bandingkan sama film The Raid, tidak kalah, dan bisa dibilang menyamai bahkan lebih. Walaupun kurang bisa dibandingkan juga seh, karena itu dua hal yang berbeda *seperti membandingkan apel sama jeruk istilahnya*. Yang aku suka dari film ini adalah ada aksi dari Femme Fatale, yaitu para wanita yang "berbahaya", cara mereka bela diri adalah menarik perhatian musuh laki - laki dengan kodratnya sebagai wanita, kemudian saat mereka lengah langsung dibantai. Serasa melihat film Charlie Angel gitu. Dan mereka adalah para femme fatale, bukan hanya satu orang saja. Dan si Jupe menjadi ketuanya. Seberapa sering seh kita melihat pemain wanita jungkir balik, pake kedua kakinya nangkep kepala musuh, terus dibanting sambil muter @.@... Keren abis. Dan mayoritas sisi action di film diperankan oleh wanita, dan ini sangat jarang di film - film yang saya lihat sebelumnya.

Kemudian, dari sisi cerita. Saya suka adegan bunuh - bunuhannya. Si Hanung Bramantyo ini kalau mau ngebunuh gak nanggung. Biasanya di film - film lain, yang biasa ngebunuh atau dibunuh itu adalah lelaki dewasa. Tapi tidak untuk kasus ini, film ini tanpa pandang bulu, anak - anak, wanita, nenek - nenek, kakek - kakek semuanya dibunuh. Tusuk - tusukan tanpa henti, darah muncrat - muncratan, dan semua itu disuguhkan di layar tanpa efek kamera *eh*, maksudnya gak di outframe dari layar, tapi aku yakin itu pakai CG atau teknik artistik khusus *semoga gak beneran ditusuk*.

Dan untuk aktingnya, sangat topcer. Karakterisasi dari setiap tokohnya dapet, sampai - sampai kita bisa merasakan "kasian" sama tokoh antagonisnya, dan ini saya suka. Rasa kasiannya itu bercampur kesel, dan kita hampir gak tau mau digimanain itu antagonisnya, pengen dibunuh, kasian, tapi kalau dibiarin idup bikin ngeselin LOL.

Untuk cerita aku singgung di akhir sih. Sebenernya untuk cerita itu biasa - biasa aja. Kenapa aku bilang begitu? Karena ceritanya itu lumayan umum seh, dan bisa diceritain dengan sangat ringkas. Ini spoiler bagi yang belum nonton, jadi jangan baca kalau blom nonton.

Perebutan kekuasaan antara putra sulung sama putra bungsu. Si raja pengen kasih ke bungsu karena dia lebih bijaksana, si sulung gak terima. Terus si sulung nyuruh siapa gitu ngebunuh raja, dan si bungsu jadi tersangka karena ada barangnya si bungsu di tekape. Si bungsu dihukum mati, tapi singkat cerita dia berhasil kabur, dan ditemukan oleh para perampok yang kesel sama pemerintah kerajaan. Singkat cerita si sulung jadi raja, pengen menaklukan semuanya, termasuk para perampok. Perampok dihabisin, dan akhirnya si bungsu ngelabrak si sulung, akhirnya dia ngebunuh si sulung dan jadi raja. The End.


Untuk ceritanya, sepertinya lack of twist. Saat adegan pembunuhan raja, saya harap pelakunya itu tidak gampang ditebak. Ternyata si Hanung gak ngasih itu, ntah kenapa ==a *annoyed*. Dan ceritanya ada beberapa adegan yang serasa di skip menggunakan animasi cartoony~... Kurang tau apa tujuannya, antara mengurangi biaya produksi atau mau menyingkat cerita karena itu kurang penting dan ngasih impresi ke penonton "Itu gak penting, tapi itu alur ceritanya supaya nyambung, jadi mendingan dicepetin pake gituan". Setelah dipikir - pikir, memang gak penting seh kalau mau dibuat scene untuk menjelaskan hal - hal seperti itu, bikin cerita tambah panjang, padahal maksudnya untuk menyampaikan kalimat "Singkat kata, si sulung jadi raja". Untuk menunjukkan prosesi dia dilantik memang rasanya gak penting abis. Tapi rasanya memang agak aneh tiba - tiba muncul animasi kayak gituan.

Walaupun ceritanya biasa - biasa aja, film ini sanggup untuk menempelkan pantat saya di kursi bioskop dan menikmatinya. Cara pembawaan cerita ini sangat menarik perhatian, dan setiap view yang ada di layar sangat menarik untuk dilewatkan. Tetapi ya durasi tayangnya terlalu lama, karena lewat dari waktu normal 90 menit. Film ini berdurasi 2 jam. Karena itu, padahal saya sudah meniatkan untuk menahan gairah buang air kecil saya dipertengahan film dan berharap bisa nempel di kursi terus sampai film habis, tetapi janji hanyalah janji, akhirnya saya menyempatkan diri ke toilet dan kehilangan beberapa frame dari film Gending Sriwijaya ini.

Akhir dari menonton filmnya, saya ngelus - ngelus dada. Si Hanung memang mengerti ternyata, disepanjang filmnya untungnya saya tidak menyaksikan adanya naga terbang. Tetapi ada beberapa bagian yang visual effectnya masih keliatan kurang rapih seh, tapi saya maafkan deh, gak papa, jangan ulangin lagi ya Hanung *timpuk Hanung pake bata*.

Btw... aku pengen nonton ulang lagi filmnya untuk membalaskan dendam aku kehilangan beberapa frame dari film tersebut. Tetapi apa bisa dikata, ini film cepet abis turun dari bioskop kayak mau ngejar deadline. Diliat dari statistik yang nonton, aku rasa ini film dikit yang nonton *statistik apaan coba?*. Ini bisa dibuktikan dengan pas aku daftar pake Blitz Card, tempat duduk yang terisi cuman dua! Sebelahan! Dan itu film udah hampir mulai! Ngapain orang berdua, sebelah - sebelahan di gedung bioskop yang gede, berdua doang?! *mulai aneh - aneh*. Dan kehadiran aku mengganggu ketenangan mereka berdua hahahahaha. Tapi karena aku gak mau jadi lalet untuk duduk disebelah mereka *dan agak awkward lah, kalau mereka ngapa - ngapain, agak - agak gimana juga aku LOL*. Jadi aku kasih sedikit privasi buat mereka dan duduk di belakangnya agak ke kanan *mau jauh - jauh juga takut sendirian aku*. Dan saat mulai filmnya ternyata bioskop itu kedatangan dua orang baru lagi. Satunya duduk di belakang orang berdua agak sebelah kiri, mungkin pikiran dia sama kayak aku, dan satu lagi agak belakang lagi. Jadi kita berlima, menikmati film yang turunnya dari bioskop cepetnya gak kira - kira. Dan akhir kata ini film jadi amat teramat sangat langka untuk ditonton dan hanya orang terpilih lah yang bisa nonton film ini LOL.

At last, ini film recommended sangat buat ditonton.

Summary
Idea : 5 / 10, idea femme fatalenya segar, tapi selebihnya biasa aja
Story : 4 / 10, straight forward ceritanya seh
Story Telling : 6 / 10, sangat enak dibawainnya oleh Hanung
Acting : 7 / 10, aktingnya merupakan salah satu bagian yang kuat dari film ini
Art : 7 / 10, dari set, kostum, make up, sangat bagus digarapnya
Sound : 5 / 10, actually aku kurang bisa ngenilai sound, tapi karena okay aja gak ada masalah sama sound, jadi aku kasih nilai normal

Diliat dari nilainya memang terlihat rendah, karena aku gak ada patokannya. Dan aku sangat gimana gitu kalau aku kasih nilai 6 keatas, karena jika begitu, maka angka 1, 2, 3, 4 bakal jarang disentuh :p. Jadi bisa dibilang aku pelit nilai. Karena aku yakin masih ada film yang bisa jauh lebih bagus dari ini, jadi nilai 8, 9, 10 aku reserved untuk film tersebut :D.
LevelIntermediate
Type
  • Dynamic Programming
Requirement
Similar
Ok... ini blog sudah vakum ntah berapa lama ._.
Biasanya pas kepengen nulis, jadi mikir... ah ini nanti garing jadi kayaknya kesannya hanya untuk nutup - nutupin kekosongan blog *geplak*, akhirnya gak nulis - nulis disini ._.
Dan semakin lama ketakutan itu semakin gede... *swt

Jadi selamat tahun baru 2013 untuk semuanya *sori telat*, dan selamat juga telah berhasil melewati hari kiamat 21 Desember 2012 dengan selamat sehat sentosa *yey*.

Jadi apa yang pengen aku tulis disini? Hmmm mungkin kita lihat di tahun 2012 itu aku ngapain aja... ._.

Agak - agak lupa seh, tapi kalau tidak salah di awal tahun 2012 itu aku masih kelas 3 SMA *ya iyalah*, itu dah hampir suasana ujian, dan aku kalau tidak salah masih harus mengikuti Pelatnas di awal - awal tahun *eh iya gak seh lupa*.

Dan waktu itu lumayan agak - agak gimana gitu... Pelatnas itu makan waktu 3 minggu, ada dua kali Pelatnas Komputer yang ngemakan waktu sekolah, jadi kalau ditotalin aku sudah sekitar 6 minggu gak masuk sekolah *yey*.
Seneng? Ya seneng banget gak belajar di sekolah, gak usah perlu ikut bimbel di sekolah yang capenya minta ampun.

Tapi kesenangan itu sirna seketika pas balik dari Pelatnas, tugas menumpuk, ulangan susulan ngantre TT.TT.
Dan untungnya aku lumayan "quick learner" *membanggakan diri sendiri*, jadi lumayan bisa ngejar materi di sekolah, dan guru aku lumayan baik ngeringanin tugasnya... thanks abis ama guru - guru yang perhatian di sekolah XD.

Dan kalau tidak salah Pelatnas 2 itu mepet - mepet abis dengan UAN *ya gak seh? lupa - lupa inget*, jadi pas pulang Pelatnas, satu atau dua minggu setelahnya langsung UAN.
Untungnya aku bisa melewati UAN dengan mulus... :D, dan nyangka gak nyangka dapet nilai terbaik satu sekolahan, sampe satu provinsi *dafuq*, dan masuk koran ._.

Dan namanya media ini... aku agak kurang sreg seh sebenernya sama tulisannya ._., aku kan belum tentu lolos Pelatnas 3 tapi dah di tulis bakal ke Italy... ._., padahal aku dah bilang masih ada seleksi lagi... tapi dibuat seolah - olah kayaknya udah positif ke Italy ._.

Oh iya... soal judulnya tentang jadi sutradara... ya karena aku kepengen kecimpung dalam dunia entertainment :D.
Pas aku bilang ke tukang wawancaranya *gak tau apa sebutannya*, aku bilang aku mau lanjut sekolah film, mukanya... priceless... kayak rela gak rela gitu dan bingung gimana nyambungin di artikelnya dari nilai paling tinggi seprovinsi, tentang olimpiade komputer terus nyambung ke perfilman... LOL *aku agak ngetroll kayaknya*

Ok terus kayaknya selanjutnya gak ada yang spesial... selesai UAN ada Pelatnas 3, dan aku gagal disini ._., ntahlah... ntah karena aku gak beruntung, atau aku lagi kurang semangat untuk lanjutin sampai Internasional, atau aku takut kalau aku kepilih mewakili Indonesia sampe internasional. Pikirannya harus dapet medal neh, gak boleh malu - maluin neh dan lain - lain. Tapi mungkin itu cuman alasan aku yang gagal neh LOL XD. Tapi Pelatnas menurut aku sangat worth it untuk diikutin :D. Pelajaran yang didapet itu dalem banget dan asik :D. Pengalamannya terutama.

Setelah mengikuti 3 kali Pelatnas, aku bilang mungkin Pelatnas 2 paling asik :-?. Pelatnas 1 banyak orang tetapi belum terlalu deket karena masih baru, Pelatnas 3 udah saling kenal, tapi orangnya dikit abis. Jadi Pelatnas 2 kayaknya yang paling pas.

Ok kita singkirin dulu urusan olimpiade komputer, kita lanjut ke kehidupan kuliah aku.
Boleh jujur... kuliahnya lumayan nyante, dan terlalu kesantaian ._.
Beda sama SMA yang 6 hari * 6 jam seminggu. Kuliah aku 2 hari * 3 jam seminggu. hanya 1/6 dari waktu yang aku pakai untuk belajar di SMA @.@...
Pas hari gak ada kuliah langsung mikir, what am i going to do? Ngegalau sendiri di apartemen, atau kalau kagak jalan - jalan sendiri di Central Park.
Oh btw... untuk menjelaskan lagi aku kuliah di SSR (School of Sound Recording) dan ambil jurusan Digital Film and Music Video Production (DFMVP), singkatnya itu perfilman.

Kalau dikasih tugas itu kerasa beraaaat banget... padahal tugasnya lumayan gak terlalu susah. Tugas di jaman SMA malahan lebih ribet. Tapi karena kebawa flownya yang nyante, jadi serasa berat LOL XD. Dan lumayan lack of motivation seh, karena kita gak dikasih nilai. Aku ini dari SD, SMP, SMA udah ditanemin mental untuk cari nilai tinggi *swt. Jadi pas dikasih sistem yang beda, dimana sistemnya nilainya diambil dari nilai tugas semesteran *kalau gak salah* atau ntah gimana proses penilainya, sampai sekarang aku juga masih ngeblur gimana tugas penilaiannya. Yang aku tahu aku belum pernah dikasih nilai konkrit yang ditulis di atas selembar kertas *plak*. Kalau ada pun itu gak dimasukin dalam nilai kita, cuman untuk test doang. Jadi ini sekolahnya tipenya bukan nyari nilai gede, tapi untuk nyari skill which is, mungkin menurut aku bagus, tapi agak lack of motivation seh *atau karena akunya yang dah kebiasaan nyari nilai yak?*.

Untuk materi pengajarannya, aku ngerasa kurang deep. Untuk waktu yang lumayan singkat seperti 2 hari * 3 jam seminggu, ekspektasi aku sebelumnya seh materinya deep banget sampai kita ngomong "Oooohh" setiap 5 menit sekali. Tapi ternyata aku lumayan sedikit kecewa, yang diajarkan lumayan basic nyentuh dasar doang, dan beberapa bisa aku cari dengan mudah di internet. Aku masih kebawa dengan cara pengajaran di Pelatnas yang paling aku suka, kalau tidak salah 3 jam itu pelajarannya dalem, kita bisa ngomong "Ooooh" dalem hati gitu, dan dapet sesuatu yang baru.
Dan ekspektasi aku awalnya karena waktunya singkat dan jangka belajar kita juga singkat *3 Semester lulus*, aku ngarepnya ajarannya itu lebih praktikal, maksudnya lebih nyambung dengan apa yang kepake di lapangan nanti dan untuk masa - masa seperti sekarang.
Jadi ceritanya kita di sekolah itu ada diajarin scriptwriting, production design, directing, cinematography, editing. Nah misalkan di scriptwriting, memang teori dibutuhkan disini, gak boleh ini, harus begitu, tapi aku lebih sangat bersyukur kalau dikasih tau gimana supaya script kita ini bakal diterima sama produser, atau gimana caranya kita ngeapply ini script, atau gimana script ini jadi uang.
Ya ujung - ujungnya uang seh... ._., bagaimanapun aku pengen kehidupan jadi filmmaker ini yang bakal ngehidupin aku, so I must make money from that.

Dan hampir semua yang ngajar kita itu guest lecturer, jadi mereka yang dah aktif di dunia perfilman Indonesia. Nah masalahnya, kurikulumnya jadi gak jelas, misalkan di silabus kita harusnya hari ini belajar tentang A, dan yang diajarkan ntah lari kemana sampai menjelaskan B, dan sampai selesai kita pun masih tidak mengerti tentang A. Ya, mungkin untuk sebagian orang nggak masalah akan hal seperti ini, tapi untuk saya, rasanya gimana ya? Agak kurang profesional atau gimana gitu. Apalagi karena lecturernya ganti - ganti, ada materi yang overlap, misalkan sudah dijelaskan oleh lecture sebelumnya dijelaskan lagi disini. Dan ada beberapa lecturer yang cara mengajarnya super slow *atau akunya pacenya kecepetan*, jadi suatu materi, materinya gampang banget dimengerti, tetapi di emphasize 3 kali atau lebih sama dia, udah hampir mirip - mirip kayak ekspansi kalau dalam istilah perfilman.

Ya mungkin akunya yang banyak ekspektasi seh ._., tapi kalau mau dibilang apakah aku kecewa masuk disini, hmmm... gak terlalu juga seh. Jadi masalah awalnya kan dulu banget aku pengen masuk IT, tetapi setelah mengetahui kakak kelas belajar apa di kelas IT, dan itu terbukti dengan aku nanya temen aku yang masuk IT. Aku sudah mengetahui materinya tersebut *sombong mode : on*. Dan aku pikir kalau aku menghabiskan waktu 4 tahun, dan sesudahnya aku masih sama dengan yang dulu lebih sedikit, dan aku sudah sangat penasaran karena gak masuk sekolah film, aku gak bisa bayangin nanti aku kayak gimana. Jadi sekarang aku sudah masuk sekolah film, gak penasaran lagi, tapi aku masih penasaran dengan cara pengajaran sekolah film di tempat lain, apakah lebih baik, sama aja, atau bahkan lebih buruk :-?.

Dan aku pikir, kalaupun aku nggak dapet apa - apa dari kuliahan ini *semoga nggak gitu*, aku bisa lumayan dapet koneksi disini, karena lebih sesuai. Jadi misalkan dulu aku ambil IT tetapi aku masih bersikeras untuk membuat film, kayaknya koneksinya lebih mandek disana, jadi mendingan disini. Tapi satu hal lagi yang bikin aku resah... disini (SSR) orangnya masih dikit, dikit abis malah, jadi aku jadi agak - agak kurang gaul ==a... *merindukan masa - masa SMA yang orangnya seabrek*.

Ok sekarang udah 2013, dan akhir - akhir ini aku banyakan procrastinating, nunda - nunda kerjaan terus ._., padahal masih banyak kerjaan numpuk. Ada rikues soal dari abang Salvian :p, terus aku masih ada cerita yang harus dilanjutin *untuk ngebaca ceritanya silahkan kesini*, dan terus aku terjebak ikut dalam onegameamonth dimana kita harus buat satu game dalam sebulan selama setahun ini ._., mungkin aku bakal buat visual novel kali ._., karena mungkin lumayan mudah tinggal cari artist, programmer, sama sound designer, dan aku jadi scriptwriternya hahaha XD.
Tetapi, semua itu mandek karena aku lagi maen Rune Factory 3 di emulator NDS di Mac aku ._., sama nonton film - film di harddisk aku yang belum tersentuh.

Jadi mungkin sampai sini dulu, aku mau nerusin tugas - tugas yang masih mandek itu ._.

cya~
Celingak - celinguk, sudah lama sekali mengabandon ini blog. Sebulan dah gak ngisi, sibuk kuliah kayaknya ==a...

Jadi di kuliah sering banget disuruh buat konsep cerita, suatu cerita, atau bahkan skenario cerita.

Jadi waktu itu disuruh buat suatu cerita, bebas, tapi jelas target audiencenya siapa dan sebagainya.

Nah aku kepikiran membuat cerita untuk anak - anak, bertemakan fantasy, dan terinspirasi dari Narnia.

Dan setelah sekian lama, aku iseng membuat posternya, dan ini hasilnya dari mencari berbagai foto di deviantart (tanpa aku kasih credit, sorry, aku dah lupa siapa aja yang aku ambil), dan aku edit dan gabung - gabung.

Jadinya gini deh.


Komen yo :D.


Dan... saya kaget.
Teman - teman dari SSR kayaknya excited untuk mendukung cerita "Under The Willow Tree" yang aku post sebelumnya. Sampai kita berencana buat short movie atau full-length movie. Aku agak... What? Really? Agak - agak amazed gitu @.@... *Wow boy, that escalated quickly

Dan Mikha Angelo, membuat sebuah lagu yang mendukung ceritanya... dan it's soooo good...
Perlu diketahui Mikha Angelo punya band bernama The Overtunes, cek di soundcloudnya mereka disini
http://soundcloud.com/theovertunes-sound
dan Mikha juga punya soundcloudnya sendiri dan bisa di cek disini
http://soundcloud.com/kulesanz

Lyrics :
I remember the times
when we're just children
when everything's fine
even when it's not

and when you take me to
the place where
the grass are green 
and you say follow me

But i got lost and scared
and i started to cry
but then you come to me
and blow them all away

Under the willow tree
you stand next to me
and all that my eyes can see
is you

Under the willow tree
you promised to me
that you won't forget me
and you don't

but all i can say is 
I am sorry
It’s 1987. In the middle of the park there is a big willow tree on the mound. It is said that if we stand under that tree and promise something, we will able to keep that promise until we die. But that’s just a rumor.

“Come on Levy! Lets go to that tree and play there! I think it will be fun!”

“Wait up Dre! I can’t run that fast!”

Dre grabs Levy hand and pull her to run. “Wait!”. Levy falls down and starts to cry. “Come on! Don’t cry Levy, you are seven years old, crying is only for babies, we don’t do anymore.”

Levy cries louder. “Okay, I’m sorry, okay?”. Levy nods her head. “My knee... It hurts”. “Which one?”. Levy points her right knee and suddenly Dre kisses Levy’s right knee. “What is that?”. “It’s a get-well kiss, feeling better?”. “Yes... thank you.”, Levy replied it with smile. “Great! Now we can play under the willow tree!”.

They arrived at the tree, and start to chat. “Someday I will marry you!”, Dre says that proudly. “What?”. “Levy, I love you, I want that we will be together ever after. Someday I will make a kingdom of love, and you will be the princess and I will be the knight that protect your heart”. “But...”. “I want to protect you from any harm, and be there to kiss your wound so you can smile again.”. Dre touches Levy’s cheek. But Levy grabs Dre’s hand and puts it away slowly. “But... you will go to other country right?”. “Yes..., but...”. “And you will begin to forget me.”. “No, I won’t.”. “But It can be, right?”. “Okay then, I will make a promise to you under this willow tree. I promise that I will remember you forever ever after!”. Dre stands and shouts so that sound can beat any sound in the world.
Entah kenapa tiba - tiba ingin membuat artikel tentang astrology.
Akhir - akhir ini, saya sangat tertarik dengan hal - hal astrology dan perbintangan.
Rencananya, nanti cerita saya akan berbasis tentang astrology (spoiler alert), sehingga mau tidak mau saya mencari banyak sumber dan mempelajari tentang astrology.

Perlu diketahui, kita dikenalkan dengan 12 jenis Western Zodiac, berdasarkan bulan kelahiran (Well, sebenernya bukan bulan juga seh).

Keduabelas jenis zodiac itu adalah :
  1. Aries
  2. Taurus
  3. Gemini
  4. Cancer
  5. Leo
  6. Virgo
  7. Libra
  8. Scorpio
  9. Sagittarius
  10. Capricorn
  11. Aquarius
  12. Pisces

Memang katanya ada isu - isu ada zodiac ke 13, tapi aku lebih suka sistem yang 12 ini.
Dan apakah ini?
Artikel lain kah?
Atau tutorial?

Sorry karena sudah menurunkan ekspetasi anda sekalian, ntah mengapa semangat untuk membuat artikel terutama tentang competitive programming dah menurun. *ambil parasut...
Ntah dikarenakan OSN dah mulai, atau aku dah masuk kuliah...

Yak sekarang saya pengen ngomong satu dua hal tentang kehidupan saya, share - share pengalaman aja lah, apalagi kejadiannya baru gak terlalu lama. Bosen artikel terus, gak ada warna...

Okey, pengen kasih pengumuman kalau aku sudah mulai masuk kuliah. Ya untuk awal - awal ini belum belajar apa - apa seh, baru pendalaman Bahasa Inggris, terutama untuk conversation gitu. Eh, mungkin pada nanya aku masuk kemana, aku masuk ke SSR (School of Sound Recording) letaknya di Jakarta, tepatnya di Tanjung Duren, dekat Mall Central Park.
Dan tebak aku ambil apa... Yak anda salah (ngerasa jadi kayak Dora), saya tidak mengambil jurusan IT sama sekali, melainkan saya mengambil Digital Film and Music Video Production (I don't have really an idea why they just can't say it "Filmmaking" or "Perfilman").
Okeh kali ini pengen show off lagi...

Masih barang lama *belum buat barang baru :p...

So here it is... enjoy it...



Jadi ini video bisa dibilang experimental pakai kamera baru *ihik...
Aku memakai kamera Sony NEX 5N, dan lumayan puas akan kualitas gambarnya :D...

Ini dibuat sekitar libur awal tahun baru kalau tidak salah.
Teman saya (yang sebagai dancer di video) ngajak untuk buat video dance.
Ya aku iya - iya aja, secara tidak ada kerjaan pas libur.
Waw... sudah agak lama tidak mengupdate blog ini.
Dan sekarang saya ingin mengumumkan milestone pertama blog ini, ternyata blog ini sudah mendapatkan 1790 kunjungan. Dan menurut saya lumayan banyak dibandingkan blog - blog gagal saya sebelumnya haha...

Dan seperti yang saya tidak perkirakan sebelumnya, blog ini berubah menjadi blog programming seputar competitive programming (walaupun belum banyak artikelnya), dan meleset dari tujuan awal blog ini dibuat, yaitu untuk seputar cerita, dan film. Karena saya juga sudah merasa sedikit bosan dengan dunia programming ini. *sorry guys...

Sekarang pun merasa dilema, apakah nanti seterusnya aku akan menuliskan artikel lebih banyak tentang competitive programming (untuk membantu yang baru - baru terjun dalam dunia kompetisi), ataukah aku akan menuliskan seputar hal - hal yang aku ingin ekspresikan.

Dan untuk kalian yang sudah 'tercemplung' di dunia competitive programming, masih banyak hal yang musti dipelajari, harapannya seh supaya OSN atau kompetisi programming lokal lainnya naik tingkat kesulitan soalnya, sehingga nanti kalau ada ajang internasional, setidaknya peserta dari Indonesia bisa bersaing dan jadi pemenang. *hua hahahahaha...

Dan melihat dari kompetisi lokal yang ada sekarang - sekarang, masih banyak peserta yang agak - agak terkejut dengan soalnya, dan terkadang ada ketimpangan gitu. Misalkan di suatu kompetisi, tidak dibatasi siapa saja yang bisa ikut serta. Jadi newbie yang ikut langsung berhadapan dengan dewa - dewa yang ntah dari mana asalnya sehingga newbie tersebut kebanting dan hilang motivasinya.

Pernah kepikiran mengapa nggak ada dibuat level - level gitu buat kompetisinya. Kalau gitu kan jadi lebih fair :-?... Tolak ukurnya bisa aja jumlah prizenya, untuk tingkat yang advance prizenya gede banget, jadi yang dah dewa - dewa gitu bakal milih yang lebih gede prizenya... kecuali dia pengen ikut kompetisi yang prizenya kecil...
Tapi ini cuman pemikiran doang kok... ntah gimana realisasinya.

Dan saat aku dah pengen menjauh dari dunia programming sedikit demi sedikit, ntah mengapa dunia programming seolah - olah mulai memanggil - manggil untuk kembali. Dan kadang - kadang dunia programming jadi sangat tempting, oh sh*t, dilema oh dilema... *dalam banget yak...
alijaya. Diberdayakan oleh Blogger.